Skip to content

Happy Birthday!

Hari ini umur saya 29 tahun. Di hari ini saya kembali menyadari betapa hidup ini penuh kejutan, kalau tidak bisa disebut penuh misteri. Tapi itulah seninya.
Saya akhirnya membuktikan betapa indahnya dibangunkan pelukan dan ciuman istri pada dini hari di hari ulang tahun. Buket bunga, brownies, kata-kata mesra dan ucapan doa melelehkan embun di ujung mata. Haru bahagia. Tak terkatakan saat menatap senyumnya. Ini bukan lagi mimpi, dan ini bukan lagi sekadar cerita.
Tahun 2007, saya hanya bisa menggambarkan rasa ini dalam cerita. Kumpulan cerita pendek yang tertumpuk tak terurus di blog ini. Tertinggal, tapi bukannya terlupakan. Cerita itu, hari ini, jadi kenyataan.
Saya juga membuktikan betapa takdir memang datang tanpa bisa diduga. Tahun lalu saya dipertemukan dengan seseorang. Dia memekarkan bunga di hati saya yang terkurung lama, entah saya sadar sengaja ataukah tidak. Dia membangunkan rasa ingin memiliki. Dia menghangatkan ruang dada. Yang terpenting, dia membuat saya tersenyum.
Tahun 2010, saya terlalu capek diluapi asmara. Saya capek mengejar titik-titik tujuan yang jauh di balik garis pandangan. Alamak pun, semakin dikejar semakin jauh.
Seorang sahabat menyarankan saya menonton How I Met Your Mother, dengan menyebut, “situasi tokoh utamanya mirip banget elu, rom.” Satu episode membuka mata saya, merasa sehati pada saat dimana sang tokoh utama mendapat petuah indah, ‘Jika kamu lelah, ingatlah bahwa pasangan hidupmu tidak diam, dia juga sedang dalam perjalanan untuk bertemu denganmu. Dan dia sedang berusaha bertemu kamu, secepat yang dia bisa.’
Dan secepat itulah dia hadir dan merebut tempat di sisi ruang hidup saya yang tadinya kosong. Tanpa aba-aba, tanpa kira-kira, tanpa praduga. Hingga sekarang kukuh bersimpuh disana. Menemani hati dan raga. Dengan riang senyumnya. Dengan genit kerlingnya. Dengan caranya yang memesona.
Semua lancar hampir tanpa kendala. Saya meminangnya dengan yakin, dia adalah satu-satunya.
Satu hal yang waktu ajarkan buat saya, sesuatu yang indah tidak selalu datang di saat kita butuh. Sesuatu yang indah datang di saat kita pasrah dan rela. Takdir berpulang kepada niat baik. Perjalanan hari mungkin membuat kita lupa, tapi selama niat baik kita teguh, takdir tidak bisa lupa.

buat Prawita.
untuk setahun ini, dan tahun-tahun bersamamu..
selamanya, sayang saya.

Media, Berita, Fakta

Akhir Februari. Malam.

Serempak kami terbahak lagi. Sungguh lelucon berkelas yang mereka tayangkan ini. Geli betul. Sayangnya bukan tawa bahagia yang kami lepaskan. Karena tanpa terasa, semakin lama kami menyaksikan acara ini, dengan semakin deras tawa kami, semakin dalam hati terlukai.

Saya terdiam menyaksikan, sambil sesekali menggelengkan kepala heran dan tersenyum miris. Malam ini membuat saya menyadari. Ternyata saya masih punya harga diri. Dan ketika menyaksikan harga diri kita diludahi oleh orang tak tahu apa dengan komentar mereka yang tak tahu kemana arah, rasanya sakit. Sakit banget.

Ini cerita soal kebanggaan institusi. Oya, buat yang belum tahu, saya adalah seorang pegawai pajak. Nah. Tahu kan kemana arah cerita saya? Ya. Saya merasa perlu membuat tulisan ini. Sekadar ingin memberi pemahaman dari sisi berbeda, dari yang ramai ditampakkan media. Tak ada niat membela diri, hanya sebuah cerita apa adanya. Tentang saya, tentang kami.

Pertama kali dengar agak lucu buat saya, karena kasus apalah ini namanya (serta merta disebut media massa sebagai Gayus II) meletup pas sekali waktunya ketika publik sedang asyiknya menonton tante Angie yang tetap cantik aja duduk pesakitan di ruang sidang. Halah. Basi. Besok pasti orang lupa deh dengan kasus yang sedang menggoyang partai politik berkuasa ini. Persis kasus Gayus (I) yang muncul tepat ketika Bank Century lagi top-topnya. Sekarang boro-boro jelas akhirnya gimana.

Tapi ya, mau ngga mau cemas juga. Wah pasti rame lagi nih. Baru saja habis masa 2 tahun saya kemana-mana dipanggil ‘gayus’, eh ada lagi. Apalagi pastinya 2 stasiun tivi beraliran politik taktis itu akan maju duluan. Wuih. Bener kan, 2 hari sejak kasusnya pertama kali muncul di tv, mereka sudah punya data lengkap si tersangka. Rumahnya, hartanya, usaha-usaha miliknya, curriculum vitae, segala macam. Ngalahin intel dah pokoknya. Perasaan cuma tersangka dari DJP aja deh yang diperlakukan ‘istimewa’ begini. Ingat nggak dulu waktu Gayus Tambunan ramai di tv, segala sampai rumah jaman kecilnya, kampusnya, semua diceritain di tv. Tersangka korupsi dari institusi lain ngga pernah deh dibeberin segitu detilnya. Hemm..

Malam ini di kantor, kami bareng-bareng nonton tv merah yang menampilkan wawancara/diskusi/talkshow (apalah itu sebutannya) dengan (yang mengaku atau diaku-akui sebagai) pakar bidang perpajakan. Hwek. Sepertinya kami yang nonton berbagi perasaan yang sama. Antara geli, heran, kesel, gondok, marah campur aduk. Ini pakar nemu dari mana ya komentarnya jelek semua. Satu arah banget. Mana pula pembawa acara bukannya mengarahkan acara kepada fakta, malah memberi pertanyaan yang provokatif dan memancing. Beberapa kali membuat kesimpulan sendiri. Duh-duh. Tambah runyam.

Contoh, istilah “orang pajak nilep uang pajak” terus-terusan disebutkan si presenter seakan-akan memang hal itu memungkinkan. Coba ya, ‘nilep’ itu kan deskripsi kasarnya gini : ada duit pajak nih di meja, orang pajak lewat, lihat duit, tengok kiri-kanan ngga ada siapa-siapa terus deh diambil dimasukin kantong. Nah sekarang, gimana caranya orang pajak bisa nilep duit pajak kalo duitnya aja ga keliatan? Kantor pajak itu ngga nerima pembayaran yah, catet. Orang bayar pajak ke kantor pos atau bank persepsi. Jadi kalo duitnya aja ga ada sama kita, gimana caranya kita nilep? Cek gih. Di kantor pajak, adanya cuma kertas sama berkas.

Eh tapi yah, saya pernah berdebat dengan seorang keras kepala tentang bagaimana Gayus itu tidak nyuri uang pajak, tapi dia ‘bermain’ dengan wajib pajak nakal supaya jumlah pajak yang dibayar berkurang. Istilah ‘nyuri uang pajak’ itu tidak mungkin menurut saya, karena ketika uang itu belum diterima bank sebagai pajak, maka status uang itu bukan uang pajak tapi cuma uangnya si wajib pajak. Mungkin merasa kehabisan bahan debat, orang tersebut dengan ga mau kalahnya berujar, “tapi kan bisa saja uang pajak yang sudah masuk ke bank ditarik lagi untuk dimakan sama orang pajak!” Tolol banget, pikir saya. Kalo bisa narik dana orang dari rekening bank, sekalian aja pikir saya ini superman. Udah nabrak tembok gitu pikiran orang ga bisa dibenerin, ya udah lah saya cuekin.

Balik ke acara yang sedang kami tonton. Ada lagi nih. Si bapak pakar yang ngakunya dari perkumpulan pembayar pajak, bisa-bisanya nyebutin pajak restoran, pajak pengusaha warteg, pajak parkir, di wacana yang membahas kasus DJP. Nih ya, catet. DJP cuma ngurusin PPh, PPN, PBB dan bea meterai. Kelompok pajak pusat namanya. Pajak restoran 10% yang kalian bayar kalo makan di restoran itu namanya pajak daerah, yang ngurusin Pemda. Begitu juga dengan pajak hiburan, pajak warteg, pajak parkiran. Ini jelas-jelas mengindikasikan kalo pembayar pajak, pada dasarnya ngga tau apa yang dia bayar. Ngga mau repot, taunya tinggal bayar aja. Eh giliran ada kasus, main tunjuk deh nuduh : ‘namanya pajak, ya urusannya kantor pajak’, begitu pikiran kerdil mereka berkata. Padahal, kalau anda merasa bayar pajak dan merasa tidak mendapat keuntungan dari membayar pajak, anda berhak menuntut. Tapi mau menuntut bagaimana kalau anda sendiri tidak tahu apa yang anda bayar?

Sesi interaktif. Seorang penelpon dari suatu daerah bercerita bahwa potensi pajak di daerahnya sangat bagus. Semua orang sudah bayar pajak. Karyawan-karyawan gajinya semua sudah dipotong pajak. Apa-apa bayar pajak. Lantas dia bertanya kenapa infrastruktur daerahnya belum ada perbaikan. Dia pun menyimpulkan kalau ini pasti karena uang pajak dicatut sama orang pajak. Si pembawa acara manggut-manggut seperti mengiyakan. Hweh. Saya garuk-garuk tanah. Heh! Emangnya yang bikin jalan, bikin jembatan, bangun sekolah itu kantor pajak?! Coba baca lagi, cari tau lagi. Berapa dana yang dialokasikan dari pajak untuk pembangunan, instansi mana yang punya tugas membangun infrastruktur daerah, berapa dana yang dianggarkan untuk pembangunan, berapa yang terserap, apa saja hasilnya? Nah. Semestinya kalo udah punya fakta, baru boleh ngomong.

Saya membuat analisa.

Dari ribuan kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, baru kasus di DJP dimana nama tersangka ter-cap ke jidat semua orang di institusi ini. Saya belum pernah dengar cerita seorang pegawai bank mengenalkan diri “saya kerja di bank kota” dijawab “woh malinda dee apa kabar mbak?”, sementara yang terjadi kepada saya ketika disapa seorang bapak yang duduk di sebelah saya di pesawat : “di ende kerja dimana mas?” | “kerja di kantor pajak, pak.” | “ooh, kantornya gayus ya..”. Cukup tiga kalimat dan saya pun menjadi gayus.

Begitu juga soal pemberitaan media yang ‘terlalu detil’ ketika seorang tersangka korupsi adalah pegawai kantor pajak. Baca perbandingan di paragraf sebelumnya tulisan ini.

Berita tentang kantor pajak selalu jadi ulasan panjang dengan cerita menjalar kemana-mana, apalagi kalau sudah diberi headline catchy yang berkonteks negatif. Kalo headline-nya suportif contohnya tentang beban anggaran negara yang 70%-lebihnya harus dikumpulkan oleh satu instansi (DJP), orang biasanya males baca. “Ya itu emang udah tugasnya.”, paling begitu komentar orang. Oh iya catet lagi buat yang mungkin masih terjebak di masa lalu, penerimaan negara kita sekarang bukan didominasi minyak dan gas bumi lagi lho. Minyak bumi telah menjadi minyak jelantah.

Kesimpulan analisa saya ternyata humanis sekali : ‘Ga ada orang di dunia ini yang suka bayar pajak’. Secara prinsip emang gitu, siapa sih yang suka disuruh bayar tapi ga jelas manfaat buat dirinya? Barang ga dapet, jasa ga keliatan, buat apa saya bayar pajak? Kan gitu. Kalo terus ternyata ketidaksukaan menbayar pajak merembet kepada ketidaksukaan terhadap pegawai pajak, masih wajar. Silakan. Toh kami ya memang bisa omong doang, “iya pak, pajak yang bapak bayar akan digunakan untuk membangun sekolah, jalan, jembatan, gaji PNS, subsidi listrik, subsidi BBM, dll” sampe berbusa padahal mah kami sendiri juga ga janji bakalan terwujud, lah pan kami tugasnya cuma ngajak orang bayar pajak, sementara yang ngatur duitnya mau dipake apa ya… kantor sebelah.

Yang tidak wajar adalah menempatkan nama baik, harga diri, usaha dan kerja keras seluruh instansi sama rendahnya dengan seorang kriminal yang ditemukan di dalam instansi tersebut. Hanya demi rating tinggi dan bisnis bagus. Apalagi bila (mungkin) hal ini kemudian menjadi alat politik antar-para pemegang kepentingan.

Kejahatan tetap kejahatan. Kesalahan pasti ada hukuman. Tapi ya harus dibuktikan. Katanya negara hukum. Kalo terbukti bersalah baru deh dilaknat sama-sama. Dikelitikin sampe turun berok boleh juga tuh. Hukum ya harus tegak dulu kecuali kalo penegak hukumnya ga bisa menegakkan hukum ya mereka yang harus dihukum duluan. Ngga pantas juga main samaratakan, seakan di satu keluarga kalo bapaknya maling anak-anaknya ya maling semua.

Fakta. Itu dia kuncinya. Ketika berita yang didengar tidak selalu benar, masyarakat yang pintar harus selalu mencari tahu sebelum berkomentar. Orang boleh komentar, berpendapat sesuka hati dan pemikirannya. Tapi fakta cuma ada satu. Ketika kita digiring menjauh dari fakta, lalu tanpa usaha mencari tahu kita tergiring begitu saja, itu sapi namanya. Atau ibaratnya kita naik taksi tanpa tahu jalan, dibawa muter-muter sama supir taksi, walaupun akhirnya sampai juga, itu mahal bayarnya. Itulah kenapa media berkuasa, karena massa mengikutinya. Seakan harus, mesti, kudu padahal seringkali, mau dibawa kemana juga kita tidak tahu.

* saya baru tau satu hari setelah memposting tulisan ini kalo ternyata sodara DW yang ngetop itu ternyata sudah bukan lagi pegawai DJP tapi sudah jadi pegawai Pemda DKI. Lalu kenapa headline pemberitaan masih menunjuk kepada kantor pajak dan DJP? tanya sendiri dah sono.

Ceritanya si Ende

Januari.

Akhir tahun 2011 ini, rumah kontrakan kami habis masanya. Hweh. Pasti naik lagi harga sewanya. Sambil termanyun lesu, tiga makhluk penghuni rumah kontrakan bergantian menyambangi ATM. Jumlah rupiah berdigit 8 pun tertarik dari tabungan. Mau gimana lagi, kalo dihitung-hitung biaya mengontrak rumah masih jauh lebih murah daripada harus kos. Walaupun ada tambahan bulanan bayar rekening listrik dan air yang bayarnya digilir tiap orang, masih lebih murah juga. Ya rekening listrik dan air kami di rumah kan ngga seberapa, secara hidup ini lebih banyak dihabiskan di kantor. Hahaha.

Tapi hari itu bukan soal uang yang menggelitik pikiran saya. Ketika kami menyerahkan amplop, ‘ibu kontrak’ (hahaha, istilahnya kok ga enak ya?) tersenyum sambil ngomong, “Alhamdulilah, mudah-mudahan makin betah ya mas..” Bener juga. Ini kali ke-4 kami bayar kontrakan. Artinya tiga tahun lewat sejak kami tinggal di Ende dan tinggal di rumah ini. Dalam diam kami tersenyum miris. Yah, puji Tuhan, rejeki kami ternyata masih dikasih disini. Tapi yaa kalo boleh minta, rejekinya yang disini biar cepet dipindahin ke tempat lain juga boleh sih. Hehehe.

Nah.

Posting kali ini saya dedikasikan buat Ende, buat 3 tahun yang saya lewati, dan buat masa.. entah berapa lama lagi, mudah-mudahan sih ga lama lagi.. yang saya akan hadapi di kota mungmep (mungil-mepet) ini.

Pertama.

Kesan pertama begitu menggoda. Saya ingat pertama kali melihat kota ini, saat pesawat saya menuju Maumere transit disini sekitar lebaran 2008. Wah, IJO!, pandang saya takjub. Secara iklim Ende memang terlihat lebih sejuk dan hijau dibandingkan Maumere yang beriklim pantai. Saya berfoto dengan latar gunung aneh berpuncak datar yang seperti habis dipapas tukang cukur amatiran (belum ada pikiran kalo Gunung Meja ini akan jadi pemandangan bangun tidur saya setiap pagi 3 tahun berikutnya).

Nggak tahunya, panasnya Ende mah sebelas-duabelas sama Maumere. 2 kota ini cirinya sama, di musim kemarau siangnya terik dan malamnya dingin menggigil, sementara di musim hujan siangnya panas lembab dan malamnya gerah. Musim hujan air bersih malah langka karena perusahaan air minum sering menyetop aliran akibat sumber air yang keruh diguyur lumpur gunung bawaan hujan.

Satu hal yang membedakan Maumere dan Ende mungkin dari bentang alamnya dimana Maumere cenderung datar dan luas sepanjang alur pantai, sementara Ende cuma nyempil seuprit di tepi pantai selatan Flores, dan di utara, barat, timur, dikelilingi perbukitan semua. Itulah mengapa Ende saya sebut mungil-mepet (udah mungil, sana mepet gunung sini mepet laut, hahaha) jadilah kalo mau keluar kota, berkendara 10 menit saja kita sudah disuguhi pemandangan jalan membelah bukit atau jalur pinggir pantai yang subhanalah ciamiknya. Perbedaan demografi ini juga mungkin yang membuat harga properti di Ende relatif lebih tinggi dari Maumere, soalnya tanah di Ende lebih sempit. Perbandingan gampangnya ya balik lagi ke soal sewa kontrakan tadi, hehehe.

Kedua.

Saya mengunjungi Danau Tiga Warna di puncak Kelimutu sekitar akhir 2008, ketika itu kantor sudah terpecah tiga, dan saya telah definitif akan menempati kantor baru di Ende setelah hampir setengah tahun tinggal di Maumere. Saya dan beberapa teman mengadakan farewell trip dari Maumere yang sekaligus menjadi welcome trip buat yang ditempatkan ke Ende. Rekor terpecahkan setelah saya ‘jackpot’ sampai 6 kali sepanjang perjalanan pertama saya dari Maumere ke Ende itu. Parah beut parah. Dikata saya yang jaman itu naik metromini aja masih sering mual, sekarang langsung dihadapkan dengan jalan berliku mengular tak habis-habis kiri-kanan-naik-turun, membelah gunung dan menyusur lembah selama 4 jam. Menginap di Moni, kampung di kaki Kelimutu, malam itu saya ‘ambles’ dikeroki sekujur badan.

Moni berjarak satu jam perjalanan berkendara dari kota Ende, dan puncak Kelimutu bisa dicapai setengah jam lagi. Danau-danau di Kelimutu, menurut cerita adalah tempat bersemayamnya arwah-arwah manusia setelah meninggal. Tiap roh akan masuk ke danau yang berbeda sesuai bagaimana sifat mereka di waktu hidup.

Sampai hari ini, Kelimutu masih menjadi tempat yang ‘majestic’ buat saya. Dari tugu pengamatan di puncak dimana kita bisa melihat 3 danau/kawah warna-warni dikala cuaca cerah, kita juga bisa memandang jaaaauuuhh, ke arah lapis demi lapis bukit yang berujung laut jauh disana. Benar-benar puncak dunia. Sisi bawah sadar akan meminta saya duduk berlama-lama, memandang ke entah apa, keluasan yang tak habisnya.

Warna danau telah tiga kali berubah sejak saya pertama kali datang : hitam-merah-hijau, lalu hitam-hijau-hijau dan terakhir hitam-putih-hijau. Danau-danau vulkanik ini selalu berubah warna tanpa bisa diprediksi kapan dan kenapa. Sementara penelitian belum bisa menyimpulkan, saya lebih suka memandangnya sebagai misteri alam indah yang memberi pandang puncak kenikmatan.

Ketiga.

Soekarno, presiden pertama republik kita yang flamboyan itu pernah diasingkan oleh Belanda (kata ‘diasingkan’ buat saya masih mengusik telinga sih, ya walau jaman sudah berubah, hehe. Tapi masih mending dibanding ‘dibuang’) ke Ende pada 1934-1938. Ayo coba dibuka lagi buku pelajaran sejarahnya, anak-anak!

Disini juga katanya, Pak Karno mulai mengonsep Pancasila yang kemudian jadi dasar negara. Ceritanya si Bapak yang lagi jalan-jalan di pinggir pantai melihat pohon sukun rimbun bercabang lima, jadilah doi suka berteduh dan duduk-duduk di bawah pohon itu sambil merenungi banyak hal. Beliau juga memperhatikan betapa masyarakat Ende yang heterogen dapat bercampur-baur dan hidup damai serta harmonis. Ende adalah kota dengan persentase penduduk muslim terbesar di Flores. Sejak jaman dulu pendatang muslim suku Bugis-Makasar, serta Arab telah datang ke Ende dan tinggal berdampingan dengan penduduk asli Flores yang Katolik. Maka tak heran jika saat ini banyak ditemukan pernikahan beda agama di Ende, namun kehidupan masyarakat yang harmonis tetap terjaga.

Di bawah pohon sukun itulah Pak Karno mengonsep Pancasila yang keren itu. Pemikiran akan sebuah negara yang bersatu diatas semua perbedaan terus beliau bawa sampai menjadi pemimpin tertinggi bangsa. Pohon sukun bercabang lima masih segar bugar dan rimbun sampai sekarang. Lokasi sekitar pohon sukun di tepi pantai Ende dijadikan Taman Renungan Bung Karno lengkap dengan patung sang pemimpin. Di area yang sama terdapat Museum Tenun Ikat, lapangan olahraga dan taman bermain yang sayangnya, tampak tak terurus baik. Sayang.

Tidak terlalu jauh dari taman, terdapat Rumah Pengasingan Bung Karno. Setelah tiga tahun, akhirnya minggu lalu kesampaian saya melihat masuk ke dalam padahal lokasinya berada di lingkungan perumahan yang biasa saya lewati kapan saja. Mungkin sehabis akhirnya masuk rumah Bung Karno ini, saya pindah. Hlah. Tetep dah.

Dari luar rumah ini biasa saja, sebuah rumah tua jaman Belanda yang mungil tapi adem dengan halaman yang sederhana pula. Sekarang sih posisinya sudah dempet kanan-kiri-belakang dengan rumah penduduk lain, tapi bagaimana ya kondisinya di jaman Pak Karno tinggal dulu? Pertanyaan saya terjawab ketika akhirnya minggu lalu bareng temen-temen dari Maumere yang main kesini, saya bisa masuk dan lihat-lihat ke dalam rumah sejarah yang selama tiga tahun saya tinggal di Ende, mau masuk juru kuncinya susah banget ditemuin. Hahaha.

Cukup banyak foto-foto jadul dan memorabilia Bung Karno tersimpan di dalam rumah, membuat kita bisa membayangkan situasi jaman itu. Sejumlah tongkat milik beliau, peralatan rumah tangganya, meja kursi serta tempat tidur kuno juga ada disana. Seorang teman berkomentar, “Wuih, banyak bisanya ya Pak Karno ini..” ketika ditunjukkan lukisan besar bergambar upacara persembahyangan ala Bali yang ternyata dilukis sendiri oleh beliau. Serius ini lukisan keren bener. Maunya sih kalo boleh saya bawa pulang.. *dijitak* Sumur di belakang rumah dipromosikan dengan, “Ayo silakan cuci muka pakai air yang sama seperti Bung Karno supaya jadi presiden.” Hahaha, aya aya wae pak juru kunci ini, saya doain bapak jadi presiden ya pak.

Hmmm.. Ende. Dari kesan pertama yang asik, Kelimutu yang majestic, sampai Rumah Bung Karno yang historic. Sini yuk mampir, mencicipi tiga tahun cerita hidup saya di Nusa Bunga? :))

*) penerbangan menuju Ende dari Kupang atau Denpasar dengan WingsAir, Transnusa, atau Merpati. perkiraan ongkos pesawat Jakarta-Ende PP 3 juta rupiah. mahal ye. Emang!

Mudik Susah 2011 (part 3)

Kamis, 25 Agustus 2011, pagi.

Hari ini bukan pertama kalinya saya naik ferry, tapi membayangkan harus terombang-ambing diatas kapal, siang hari bolong pula, mau gak mau bikin nyali ciut. Apalagi lamanya bukan cuma 2 jam seperti ferry Banyuwangi-Gilimanuk, bukan juga cuma 4 jam seperti Padang Bai-Lembar, tapi ini 8 jam! Puas-puasin dah tuh dengan tiket seharga 40 ribu rupiah bisa menghabiskan sepertiga hari dan seluas mata memandang hanya akan ada…air laut. Kapal ferry ini juga kayaknya shock-breakernya gak pernah diganti, belum juga mesin nyala, goyangannya sudah terasa. Nenggak antimo dulu deh ya biar aman, tujuh toples.

Kapal bertingkat 3 angkat sauh dari pelabuhan Labuan Bajo jam delapan pagi lebih sedikit. Cuaca masih oke, matahari belum tinggi dan walaupun gak kebagian duduk di ruang penumpang yang ber-AC, kami masih bisa selonjoran di dek paling atas dimana masih ada bagian yang terhalangi dari sinar matahari. Tambah asik, angin laut bertiup sepoi. Ditemani beberapa ekor lumba-lumba yang meloncat-loncat di sisi kapal (dan sayangnya tidak sempat saya lihat), kami memulai perjalanan dengan ceria. Mungkin perjalanan laut kami hari ini tidak seburuk yang dibayangkan.

Eh tapi tunggu dulu!

Seiring matahari yang merangkak naik, ketika hari menjelang siang kami juga dibuat panas oleh sebuah berita buruk. Buruk, busuk, dan super-mengesalkan. Penerbangan TransNusa Ende-Denpasar untuk tanggal 26 Agustus yang sehari sebelumnya dinyatakan di-cancel, yang membuat kami harus berjibaku mengejar waktu semalaman tadi dan 2 hari selanjutnya, diberitakan DIBUKA KEMBALI dan SIAP TERBANG. Br*ngs*k. Maskapai macam apa ini. Kekonyolan seperti ini harusnya memecahkan rekor sebagai lelucon paling tidak lucu sedunia. Sayangnya karena diatas kapal kita dilarang menghelat ritual santet, jadi untuk mengurangi rasa kecewa dan marah (atau perasaan apalah itu namanya, macam ‘kombo perasaan tidak enak’ gitu) saya memilih membaringkan badan dan tidur. Pun kami sudah sampai disini, jadi mau bilang apa.

Semakin siang semakin sulit mencari tempat yang tidak terpapar sinar matahari. Panas membakar. Saya beringsut mencari pojok-pojok tersisa di lantai 2, cukup selebar pantat supaya bisa duduk dan melanjutkan tidur. Kapal ini penuh betul sih tidak, tapi saya pastinya ogah membayangkan kapal ini dalam keadaan lebih penuh dari saat ini. Kursi yang disediakan cuma sedikit, tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang diangkut. Jadilah penumpang berserakan tak keruan macam ikan asin. Herannya cukup banyak warga negara non-Indonesia yang ikut menumpang kapal. Saya menebak-nebak alasan keberadaan mereka disini dan sampailah kepada 6 kemungkinan : 1) hemat 2) iseng 3) nekat 4) kena tipu 5) memang berjiwa petualang, atau 6) tolol. Hihihi, lah saya saja kalau tidak terpaksa ogah naik beginian secara perjalanannya traumatis, mereka yang bule kok mau-maunyaa, gitu. But I could be wrong, though.

Menjelang jam 2 siang, saya terbangun dari duduk tertidur diakibatkan mencium semacam bebauan yang tidak oke. Ealah pantas, di belakang saya toilet umum ternyata. Entah bagaimana saya bisa anteng sampai tertidur di lokasi tersebut selama beberapa jam. Mungkin arah angin baru saja berubah, atau ada orang membuang sesuatu yang diluar batas wajar indera penciuman di toilet tadi. Apapun itu, berhasil membuat saya beranjak. Naik lagi ke dek paling atas. Waw, matahari sekarang tepat diatas kepala. Tapi angin siang itu juga bertiup syahdu, nyaman dan meninabobokkan. Saya melihat sekeliling, orang-orang santai aja tuh duduk di tempat yang tersinari matahari langsung. Ada juga beberapa bule juga yang cuek bebek setelah mengusap badannya dengan Spf, berbaring santai beralaskan sarung berbantalkan ransel. Gile, serasa di pantai aja kali tuh. Rasa cinta tanah air saya mendadak timbul, “…masa’ gue takut sama matahari di negeri sendiri sementara itu bule-bule bisa menikmatinya dengan hepi!? Gak boleh begini!” dan saya pun nekat berjalan ke deretan kursi kosong di tengah-tengah dek, duduk santai disana sampai tertidur pulas! Tanpa sunblock, tanpa sunglasses, tanpa topi. Hasilnya, wajah saya sukses gosong terpanggang dan terlihat item sampai seminggu kemudiian.

Menjelang pukul 4, pelabuhan Sape di ujung timur Pulau Sumbawa mulai terlihat. Para penumpang bersiap-siap dengan barang bawaan mereka. Tak lupa anak-anak mereka yang sepanjang perjalanan pecicilan, lari-larian gak bisa diam dipentung kepalanya sampai pingsan dan dimasukkan kembali ke dalam karung. Hahaha. Dikata anak kucing?! Geregetan sih melihat anak-anak itu yang tanpa peduli terus kejar-kejaran di atas kapal, seakan-akan meledek saya yang tertidur lunglai digoyang mabuk laut.

Ferry merapat, muatan pun menghambur keluar. Truk-truk, mobil box, minibus dan sepeda motor, keluar beriringan dengan manusia dan sejenis bebek-bebekan untuk mencapai daratan. Dari sini terlihatlah kondisi Pulau Sumbawa yang ternyata sebelas-duabelas dengan Flores : panas, kering dan gersang. Kami menunggu untuk dijemput. Tujuan kami, kota Bima ternyata masih harus ditempuh dengan perjalanan darat selama 2 jam lagi. Tak berapa lama 2 mobil plat merah dari Kantor Pajak Raba Bima datang menjemput, membawa kami membelah padang kering di ujung timur Sumbawa, menuju Bima dimana kami akan menginap satu malam, sebelum besok melanjutkan perjalanan udara ke Denpasar.

Paling tidak, malam itu rombongan kami mencapai Bima dengan wajah sumringah. Ujian-ujian terberat sudah terlewati, akhirnya bisa tidur dengan layak. Oh iya, jangan lupa pesan susu kuda liar buat oleh-oleh. Oleh-oleh dari perjalanan liar. Ha!

Seseorang Untuk Ku Panggil ‘Rumah’.

Aku kembali.
Kota yang kukenal,
yang derap langkah manusianya senada dengan jantungku,
yang udara kotornya tersimpan dalam paru-paruku,
yang bebauan busuknya akrab dengan hidungku,
kota tempat tinggal orang-orang yang ku sayangi lebih dari diriku.

Aku masih disini.
Menatap kota yang kukenal.
Aku masih mengenali sudut-sudutnya,
maka aku menyapa pojok-pojoknya,
lalu aku menggenggam ruas-ruasnya,
mencoba membentangkan lengan,
meraup kenangan yang tercecer,
mengumpulkan jejak waktu yang terputus-putus sejak setahun kemarin.

Aneh.
Kota ini memelukku balik, dengan pelukan yang tetap ramah namun tegas seperti pelukan yang dulu. Tapi pelukan itu tak lagi terasa sama.
Kota ini juga membalas sapa kangenku, dengan sapaan yang tetap karib namun lantang seperti sapaan yang kuingat. Tapi sapaan itu tak lagi terdengar sama.

Ternyata bukan tentang kota ini.
Ini tentang aku.

Aku kehilangan setitik esensi.
Kota ini tidak berubah, tapi aku merasa ini bukan lagi kotaku.
Kota ini tetap yang sama, tapi aku merasa ini bukan lagi kemana ku ingin menuju.

Aku hilang.
Tersesat dalam arus waktu.
Serupa nama dalam bisikan angin. Bagai layang-layang putus.
Tak mampu menemukan pulang.

Adakah mampu lagi aku menjejak?
Dimana?
Kapan?
Kemana?

Kumohon raihlah aku, aku yang melayang-layang tak tahu pulang.

Mudik Susah 2011 (part 2)

24 Agustus 2011, siang.

Sudah beberapa menit saya terdiam di depan lemari pakaian yang terbuka, menatap tumpukan pakaian dengan pandangan berkeliling menarget sasaran. Setelah cukup lama.. Hup! Hup! Hup! Tangan saya gesit mencomoti lembar demi lembar pakaian sesuai daftar : kaos, celana panjang, kemeja, kaos kaki, celana dalam, dan voila! sekarang semua telah rapi tersusun dalam ransel. Langsung saya angkat ke punggung. Tas kecil berisi alat elektronik dan rupa-rupa kabel juga siap disandangkan ke bahu. Merasa semua beres, saya pun membuka pintu depan. Berangkat! Siap menyongsong mudik! Saya merasakan ekstase mengalir dalam darah saya dan menggelorakan semangat!

“Mau kemana?” teman sekontrakan memergoki saya berdiri di ambang pintu penuh digdaya bagai Gajah Mada.

“Lah. Kan mau mudik.”

“Mudik ke hutan? Masa cuma pake kolor doang begitu…?”

Eh? Saya menatap ke bawah. Ups. Ternyata habis keluar dari kamar mandi barusan saya langsung sibuk mikirin barang apa yang harus di-packing, sampai lupa pake baju. Cih. Segera saya menutupi bagian tubuh yang seharusnya tertutup dengan tangan, masuk rumah sambil cengengesan diikuti tatapan shock ibu tetangga sebelah.

Ga salah juga sih saya linglung begini. Kami cuma punya waktu sejam untuk bersiap dan packing. Karena setelah disepakati kami akan melewati jalur darat+laut ke Bima demi mengejar penerbangan dari Denpasar pada tanggal 26 malam, kami harus berangkat sore ini juga. Bukan apa-apa, rute pertama yang harus kami lalui yaitu jalan darat Ende-Labuan Bajo ditempuh selama kurang-lebih 12 jam! Ya, 12 jam itu setengah hari lamanya. Lama banget. Setara misalnya, kalau ada orang yang koprol selama 12 jam, kira-kira pulangnya akan menjadi abon. Apadeh.

Walaupun saya pernah mengalami rute yang sama setahun yang lalu dalam trip ke Kepulauan Komodo, kembali membayangkan perjalanan traumatis ini saja sudah membuat mual. Tekanan makin berat karena kami harus sampai ke Bajo tepat sebelum pagi agar tidak ketinggalan kapal ferry ke pulau Sumbawa yang hanya berlayar 1 kali tiap harinya.

Tiket pesawat Bima-Denpasar sudah ditangan. Tas dan ransel ter-packing sudah. Mobil sewaan beserta supir telah siap di halaman kantor. Sebagai seorang drunken master (tukang mabok) berpengalaman saya pun telah membekali diri secara khusus dengan tujuh kardus Antimo dan satu peti besar Tolak Angin. Tatapan iba teman-teman kantor ketika kami mengucap pamit masih terbaca, “kesiaaaann amat deh loe pesawat di-cancel..” begitu mungkin kata hati mereka.

Jam 3 sore kurang-lebih kami meninggalkan kota Ende, menyusuri jalur selatan yang bersisian dengan pantai. Langit cerah. Pulau Ende di seberang sana melambaikan salam kepada 2 mobil yang beriringan mengantar rombongan mudik ke ujung barat. Garis pantai di selatan Ende ini panjang dan cantik menemani pandang sepanjang jalan, sayangnya laut selatan Flores tidak bisa direnangi karena ombaknya yang keras dan arus bawah yang bergulung-gulung.

3 jam berselang melewati pantai, hutan dan lembah, kami mencapai Mataloko, daerah dataran tinggi di Kabupaten Ngada yang terkenal dengan kebun cengkehnya. Dinginnya suhu gak kenal ampun. Saya meloncat-loncat di tepi jalan tanpa bermaksud sok lincah ketika mobil kami masuk SPBU untuk antri mengisi bahan bakar. Rasanya jemari saya merintil keriting saking dinginnya udara. Di musim panas April-Agustus, malam di Flores selalu lebih dingin karena tiupan angin kering dari gunung. Yah, hitung-hitung latihan, pikir saya sambil tidak berhenti leluncatan, siapa tau besok jadi liburan ke negara dingin. Cihui!

Mampir sebentar mengisi perbekalan di Bajawa, kami lanjut 2 jam melewati hutan bambu yang lebat sebelum sampai di Aimere, batas Kabupaten Ngada dan Manggarai Timur. Di Aimere kami makan malam, tapi apa daya titik ketahan-guncangan tubuh saya yang emang dari sananya udah tipis tak mampu lagi menahan mual. Kami pun minggir dulu deh minggir, beberapa lama sebelum melanjutkan perjalanan. Saya sendiri langsung tenggak antimo 2 karung.

Hampir tengah malam kami sampai di Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai yang merupakan salah satu kota terbesar Flores. Eh ternyata malam di Ruteng seampun-ampun juga dinginnya. Pantas saja Ruteng yang ramai di siang hari bisa berubah sunyi lewat jam 8 malam. Boro-boro ada warung buka untuk kami sekedar menyesap kopi, melihat orang keluar rumah di jam segitu saja sudah syukur banget! Hahaha.

Sempat diwarnai insiden jalan yang tertutup truk nyungsep, kami akhirnya mencapai Labuan Bajo menjelang imsak, langsung menuju pelabuhan dimana banyak warung yang buka sampai pagi untuk mengisi perut seadanya dengan teh panas dan gorengan. Tapi ah, saya memang tidak berniat puasa hari ini, mengingat perjalanan pagi ini akan kami lanjutkan dengan kapal laut, pastinya lebih mual lagi. Saya pun memesan kakap bakar, menikmatinya walau azan subuh sudah berkumandang. Sama juga kan kalau nanti batal di kapal. Hmm. Mudah-mudahan cukup untuk isi perut menolak angin laut seharian nanti.

Loket kapal ferry belum buka sampai dengan pukul 7 pagi, akhirnya kami pun numpang istirahat dan bersih-bersih di kantor pajak Labuan Bajo. Senangnya bisa selonjoran dan rebahan lagi! Aneh rasanya mengunjungi Labuan Bajo hanya untuk transit tanpa niat berwisata, kalau saja kami punya waktu lebih barang sehari-dua hari pasti senang sekali karena bisa sekalian mampir ke Pulau Kanawa, Bidadari dan Rinca, bertemu mbah-nya para cicak, yaitu Naga Komodo.

Matahari meninggi seiring kami pamit kepada teman-teman kantor Labuan Bajo menuju pelabuhan ferry dimana kejutan selanjutnya menunggu.

Mudik Susah 2011 (part 1)

Hari pertama : 24 Agustus 2011

GUBRAK!!
Pagi itu kantor dikejutkan oleh sebuah suara gubrakan. Beberapa ibu kaget terlatah-latah. Pagi di hari Rabu terakhir masuk kantor menjelang libur lebaran yang tadinya santai, damai dan membuai, mendadak riuh. Ucap resah bernada tanya bersliweran di udara. Saya tak bergeming, berdiri mematung di depan kubikel, berusaha mengumpulkan akal sehat tadi yang seperti pecah berserakan. Masih shock, saya hanya mampu menjawab tatapan bingung teman-teman kantor dengan tatapan balik bermuka lempeng tanpa ekspresi. Oh iya. Oknum yang menggebrak meja barusan, tak lain adalah saya sendiri. Sebuah SMS masuk ke handphone saya dan mengacaukan semuanya.

“Pagi info transnusa…dikarenakan alasan operasional maka penerbangan ende denpasar tanggal 26 agustus cancel flight..trimaksih”

Bagus bener. Saya bahkan tak mampu lagi mengumpat saking kagetnya. Pun saya tak sempat memperhatikan bahwa di sms tersebut sama sekali tidak ada kata ‘maaf’. Kurang ajar amat. Pikiran saya mampet, alhasil menggebrak meja itulah reaksi refleks yang saya bisa lakukan. Biarlah pahala puasa saya hari itu dipotong karena tak mampu menahan amarah, lagipula toh pahala puasa saya sepertinya sudah dipotong duluan karena sebelum sms keji itu datang saya sedang asyik mengkhayal sambil browsing Sasaki Nozomi.

Penerbangan Ende-Denpasar dengan pesawat Transnusa pada tanggal 26 Agustus 2011 seharusnya akan menjadi bagian dari perjalanan mudik lebaran saya tahun ini. Bahkan tiket sudah terbeli dari bulan Juni, mengantisipasi kenaikan harga tiket yang amit-amit menjelang hari raya. Seharusnya ini akan menjadi perjalanan mudik yang menyenangkan. Terbayang minggu terakhir masuk kantor akan dilalui dengan santai, kerjaan enteng karena pikiran senang mau pulang, lalu hari Jumat sore kami akan berpamit-pamitan dengan teman-teman kantor, saling salam, dipesani titipan oleh-oleh, minal aidin wal faidzin, dan wusss malam harinya sudah tiba dengan selamat di pelukan keluarga di rumah masing-masing.

Tapi sekali lagi, takdir mengharuskan kami belajar.

Beberapa menit kemudian, setelah lepas dari shock dan berhasil menguasai diri saya pun berkeliling menyebarkan berita buruk ini kepada 7 rekan kantor yang juga akan terbang dengan pesawat yang sama. Reaksi orang lucu-lucu. Ada yang terdiam, melongo, geleng-geleng kepala, ada juga yang walaupun raut wajahnya tenang tapi lalu melangkah mondar-mandir gak keruan. Kami berkumpul di ruangan, berdiskusi menyusun rencana. Beberapa teman yang mudik dengan penerbangan lain ikut berkumpul bersama kami dengan wajah iba, tapi terasa juga guratan gelisah di wajah mereka. Siapa tahu penerbangan mereka juga dicancel? Buat kami yang tinggal di Flores, penerbangan dicancel itu biasa, bahkan bisa terjadi pemberitahuan pembatalan penerbangan baru diperoleh saat kita ada di bandara bermaksud check-in. Kacau kan? Tapi apa daya. Di luar alasan faktor cuaca yang tak bisa digugat, profesionalitas maskapai disini memang masih payah. Masalahnya sekarang, ini menjelang lebaran, bung!

Tuh kan betul, karena menjelang lebaran semua penerbangan yang kami cek sebagai pengganti sudah full-booked semua sampai hari Senin tanggal 29 Agustus. Belum lagi kami harus mencari tiket lanjutan ke pulau Jawa, yang kemungkinan besar harganya juga sudah melangit karena penerbangan dari Flores hanya tersedia tujuan Kupang, Denpasar dan Makasar. Kami yang ramai-ramai pergi ke kantor transnusa pun akhirnya mau tak mau harus menerima pengembalian dana sejumlah harga tiket saja, tanpa kompensasi lainnya. Yang tadinya kami berniat marah, luluh juga setelah melihat mbak-mbak pegawai transnusa. Mereka kan cuma pegawai gak tahu apa-apa, kesian juga dimarahi kayak bagaimanapun gak akan bikin pesawatnya jadi berangkat. Dalam hening, kami kembali ke kantor. Entah apa dalam kepala kami waktu itu, penuh ide rencana atau malah kosong plong.

Rapat mendadak pun digelar. Semua kemungkinan dibahas. Kemungkinan pertama : pasrah untuk membeli tiket sesuai jadwal tersedia di hari Senin yang artinya sampai di rumah pas malam takbiran. Ide pertama ini langsung ditolak hadirin karena selain harga tiket sudah lebih mahal, kami tak mampu menahan derita sakau mudik sampai hari Senin. Belum lagi kalau ditanya tetangga yang sudah dipamiti sebelumnya, “lho mas, kok gak jadi berangkat mudik?” waah rasanya kayak muka digaruk kulit duren ituh.

Kemungkinan kedua adalah memasukkan nama kami ke waiting list penerbangan yang lain yang sudah penuh itu, tapi dengan syarat harus rela digantung tanpa kepastian jadi berangkat atau tidak. Ih, paling ogah deh digantung. Mending gantung aja kita sekalian di pohon toge sampai mati. Kemungkinan kedua pun dengan sukses ditolak.

Karena kami semua juga sudah memiliki tiket lanjutan ke Jawa untuk penerbangan tanggal 26 malam, demi menghindari kerugian finansial yang lebih besar akibat penerbangan 26 malam itu kena charge dan harus dicancel juga, kami pun sampai pada kesimpulan bahwa goal kami yang pertama ada untuk dapat mencapai Denpasar pada tanggal 26 Agustus. Bagaimana pun caranya. Maka muncullah kemungkinan ketiga, dimana kami cuma harus melakukan perjalanan darat ke Labuan Bajo di ujung barat Flores, lalu naik ferry ke pulau Sumbawa, dan terbang dari kota Bima supaya bisa sampai tepat waktu di Denpasar. Ah maaf. Saya tadi ketik cuma, padahal seharusnya ‘cuma’ dalam tanda petik.

And here goes our journey home. Nyok.

Jangan Pergi Ke Pink Beach!!

Semua orang yang pernah mendengar takjub kisah-kisah atau memandang kagum foto-foto yang menggambarkan tentang Pink Beach, sebuah pantai dimana terhampar pasir berwarna unik yang terletak di sebuah teluk di sebelah timur Pulau Komodo yang terkenal karena pemandangannya yang ciamik dan terumbu serta ikan-ikan karang di sekitarnya yang bertebaran mewah, pasti berangan-angan untuk pergi kesana. Sekedar untuk memandang kagum pantai dengan pasir putih yang secara ajaib bercampur serpihan karang merah yang membuatnya merona merah muda, atau berenang dan snorkeling mengunjungi ikan-ikan berwarna cerah di kerajaan terumbu mereka yang serupa taman bunga, pastinya indah dan menyenangkan.

Satu hari yang lalu saya mengunjungi Pink Beach. Dan jika kalian termasuk diantara banyak yang bercita-cita untuk mengunjungi Pink Beach, sebagai teman yang baik saya akan memberi saran : JANGAN pergi ke Pink Beach.

Lho?

Ya. Sekali lagi jangan pergi ke Pink Beach … apabila :

1) Kalian tidak bisa menyewa kapal yang sesuai.
Kapal yang kami sewa kemarin, sebuah kapal penumpang berukuran sedang yang jelas-jelas tidak bisa disebut bagus, tidak bisa merapat sampai ke pantai karena dipastikan akan menabrak karang sehingga hanya dapat menambatkan diri 100 meteran dari pantai. Tidak boleh juga melempar jangkar. Bila dipaksakan merapat, baik lambung kapal ataupun sebaliknya terumbu karangnya yang akan rusak, dua-duanya tidak terdengar seperti ide yang bagus.
Jadi kata-kata ‘sesuai’ diatas dapat saya deskripsikan sebagai kapal yang cukup kecil untuk bisa merapat ke pantai tanpa menabrak karang, atau kapal besar (dan pastinya juga mewah) yang punya fasilitas sekoci kecil bermesin seperti yang kemarin saya lihat dinaiki oleh bule-bule berwajah sumringah. Sial betul. Boat kecil itu cuek saja bolak-balik mengangkut turis dari kapal induk mewah yang bertuliskan nama sebuah dive center terkenal ke pantai, sementara kami cuma manyun mendengki dari atas kapal kami yang pas-pasan.

2) Kalian tidak bisa tiba disana pada waktu yang tepat.
Oke, katakanlah 100 meter itu tidak terlalu jauh dan berenang sejauh itu menuju pantai tidak menjadi masalah buat kalian. Hambatan kedua datang dari alam. Kemarin kapal kami tiba di perairan depan Pink Beach sekitar pukul 11 siang, dan itu adalah kabar buruk. Laut yang sedang dalam keadaan pasang mengalirkan arus yang kuat menuju laut lepas. Beberapa percobaan berenang yang kami lakukan kandas karena tak kuasa menolak arus.
Saat terbaik untuk mengunjungi Pink Beach adalah sekitar pukul 9 pagi dan 3 sore. Pada waktu-waktu tersebut arus air laut relatif tenang dan aman. Karena Pink Beach berjarak 4 jam perjalanan boat dari Labuan Bajo, waktu memulai perjalanan menjadi penting.

3) Kalian bukan perenang handal.
Sehubungan dengan 2 hal diatas, jika kalian mencapai Pink Beach dengan tidak menyewa kapal yang oke dan tidak pada waktu yang tepat, kualitas individu dalam hal menirukan ikan pesut jadi pembeda disini. Buat yang merasa punya keahlian renang yang mumpuni, stamina tukang becak, dan urat nyali yang tebal, silakan mencoba berenang menentang arus laut yang deras sejauh sekitar 100 meter menuju pantai. Buat yang tidak silakan menyesali diri dan kembalilah kesini lain kali dengan perencanaan yang lebih baik.

Hmm. Iya deh saya ngaku kalo saya termasuk diantara orang-orang yang menyesal itu. Hehehe. Tapi kabar baiknya, setelah melihatnya sendiri, penggambaran Pink Beach yang saya tulis di paragraf pertama tulisan ini adalah jujur dan tidak berlebihan lho.

Nah kan! Malah tambah kepingin main ke Pink Beach habis baca tulisan ini? Sukurin!🙂

*) Pulau-pulau di Kepulauan Komodo (termasuk Pulau Komodo dimana terdapat Pink Beach) dapat dicapai dari Labuan Bajo, kota pelabuhan di ujung barat Flores dengan menggunakan kapal kayu bermesin maupun speed boat.

*) Kepulauan Komodo memiliki puluhan titik penyelaman yang dapat dikunjungi dengan menghubungi operator diving yang banyak tersedia di Labuan Bajo, dengan tontonan utama yaitu Manta (ikan Pari Raksasa), Reef Shark, Lion Fish, Penyu, dan pastinya terumbu karang yang beraneka warna dan rupa. Sementara titik-titik snorkeling yang bagus dapat ditemui di Pink Beach, Pulau Kanawa, Pulau Kelor, dan Pulau Bidadari.

*) Di bawah pengelolaan Taman Nasional Kepulauan Komodo, pengunjung dapat menjumpai satwa endemik kadal prasejarah Naga Komodo di 2 pulau terbesar yaitu Pulau Rinca dan Pulau Komodo.

*) Bila merencanakan trip ke Kep. Komodo, perlu dicatat bahwa trip ini relatif mahal. Pengeluaran besar yang utama selain tiket pesawat ke dan dari Labuan Bajo, adalah sewa kapal untuk transportasi ke pulau-pulau. Negosiasikan rute dan waktu perjalanan dengan awak kapal untuk kesepakatan harga terbaik. Sebagai gambaran trip 2 hari 1 malam dengan rute : Labuan Bajo-Pulau Kanawa-Pulau Komodo (dan Pink Beach)-Labuan Bajo, termasuk bermalam di Kanawa dan berhenti di spot-spot snorkeling, sewa kapalnya saja dihargai sekitar Rp 3,5 juta (maks. penumpang 15 orang), sementara trip serupa dengan Labuan Bajo-Pulau Kanawa-Pulau Rinca-Labuan Bajo dihargai Rp. 1,8 juta (maks. penumpang 15 orang). Penginapan di Pulau Kanawa sendiri tarifnya Rp. 250ribu per cottage (untuk 2 orang).

menyumbangkan masalah

Hmm. Yang kalian baca sekarang adalah draft yang-ke-berapa-ya-gw-lupa sebelum akhirnya saya berhasil ngepost tulisan ini. Gak tau deh, draft sebelum-sebelumnya saya hapus bahkan sebelum tuntas paragraf pertama. Kayaknya bingung aja gitu mau mulai darimana.

Makanya biar sayanya gak terus-terusan bingung memulai padahal penasaran mau nulis juga, kali ini, gimana kalo kita mulai dari inti cerita? Oke, jadi gini. Menurut saya, di dunia ini gak ada satupun permasalahan yang terlalu pribadi sampai harus kita simpan sendiri. Gak ada.

Saya tentu, punya masalah juga. Banyak pula, kalau mau dihitung-hitung. Bayangkan, tiap hari ada aja masalah yang nyangkut di pikiran. Soal keluarga lah, kerjaan lah, pingin ini, pingin itu, soal ini, soal itu. Wah kalau beneran mau ditelusuri rekam jejak tiap masalah yang mampir nyangkut di kepala saya, jangan-jangan gak cukup diberkas dalam satu gudang penuh. Atau gampangnya katakanlah tiap hari ada satu aja masalah yang harus saya pikirkan, jadilah sepanjang hidup ini kurang lebih ada (24×365)+(2×30) masalah yang saya pernah pikirin. Sebagian terpecahkan, sejalan dengan waktu ada yang terlupakan, tapi banyak juga yang masih kepikiran sampai sekarang. Berapa jumlahnya? Ya pokoknya banyak.

Nah. Dari situ saya belajar. Yang namanya masalah gak akan ada habisnya. Terus muncul paling tidak satu setiap harinya. Kadang juga masalah yang sama berulang namun dalam situasi yang berbeda. Lain waktu malah berbagai masalah datang di saat yang sama, wah.

Selanjutnya kalau kita tau masalah ini gak ada habisnya, ngapain juga repot-repot kita hitung-hitung ya? Udah banyak diitungin lagi, hmm. Yang jelas kita juga tau, di diri setiap orang, tersimpan masalah, gak peduli kaya-miskin, ganteng-jelek, pintar-bodoh semua punya masalah sesuai kadarnya masing-masing.

Sekarang. Ketika kita ngerasa kita punya masalah banyak, coba deh, gimana kalau kita sumbangin sebagian masalah kita punya ke orang lain yang membutuhkan. Eh jangan manyun dulu, ini serius, kalau punya uang banyak aja harus disumbangin, masa’ kalau banyak masalah gak boleh? Hahaha, gini deh saya jelasin.

Setiap manusia yang hidup di dunia ini kan pasti punya pengalaman hidup yang berbeda. Sehubungan dengan itu, masalah yang dialami pun pasti berbeda juga. Terus, cara tiap-tiap orang menghadapi masalah pasti akan berbeda lagi, tergantung dari lingkungan, cara pandang dalam hidup, latar belakang, dan sebagainya. Karena itu, setiap masalah itu sifatnya unik, seunik kita, manusia. Setiap masalah yang muncul di dunia, tidak akan pernah sama. Jadi jangan pernah merasa masalah kita sudah terlalu banyak, sampai-sampai gak perlu lagi memikirkan masalah orang lain. Cih, sombong amat.

Saya pikir, betapa kerennya jika masalah yang kita punya bisa disebar ke orang lain, karena ketika kita berbagi masalah, kita juga berbagi ide, dan berbagi pengalaman hidup. Contoh gampang misalnya, seorang teman bercerita, harga bensin yang makin mahal membuat dia harus menjual mobil kesayangannya, yang terkategori boros. Itu dilema berat buat teman saya. “Gimana ya, om?” dia minta pendapat saya. “Ya itung-itungan aja dulu, kebutuhan lo buat pake mobil besar apa gak. Klo kira-kira jarang dipake juga ya jual aja.” gitu deh saya jawab sebisa saya. Ya sebisa saya dong, lha pernah punya mobil aja gak, gimana bisa saya benar-benar merasakan dilema dia?

Dari masalah yang teman saya ceritakan kepada saya, apa masalah saya kemudian jadi bertambah? Hmm gak deh kayaknya. Yang bertambah malah, pengalaman hidup saya. Saya bisa belajar dari pengalaman teman saya, kalau besok dapat rejeki untuk beli mobil *amin!!* pilihlah mobil yang hemat bensin, karena harga bensin makin mahal.

Di sisi lain, mungkin, dari pendapat yang saya berikan teman saya jadi punya pandangan yang berbeda untuk memutuskan masalah yang dia hadapi. Dengan adanya pandangan yang berbeda ini, dia jadi lebih ringan untuk memutuskan, karena dengan memberinya saran, saya juga memberinya dukungan dan perhatian.

Implementasinya sama kok, ketika masalah yang dihadapi bukan lagi soal bendawi, seperti contohnya mobil tadi, tapi lebih jauh, misalnya hubungan antarmanusia. Ingat, gak ada masalah yang terlalu pribadi untuk disimpan sendiri. Dan di setiap masalah, ada pelajaran hidup.

Gak perlu sungkan deh buat membagi masalah kita ke orang lain, toh masalah kita ya keputusannya akan tetap berada di tangan kita, gak serta-merta kita cerita terus orang yang kita ceritain jadi ketularan punya masalah yang sama kan? Begitu juga, yang terbaik bisa kita lakukan tiap kali diberi kehormatan, kesempatan dan kepercayaan untuk mendengarkan masalah orang lain adalah, memberi pendapat yang jujur, saran yang tulus, dan mendoakan agar masalah tersebut cepat berlalu. Jangan lupa untuk bersyukur karena kita belum menemui masalah seperti itu di hidup kita, dan selalu mengambil pelajaran sehingga mudah-mudahan masalah yang sama tidak terjadi kepada kita di masa depan. Cukup itu saja.

Ayo sini, saya butuh sedikit aja masalah dari tiap-tiap kamu. Ibarat barang koleksi, masih banyak masalah yang belum pernah saya temui dan saya ambil hikmah dari sana. Koleksi masalah saya masih jauh dari cukup! Haha.

Saya sendiri juga punya masalah nih, boleh kok kalau ada yang mau, saya sumbangin ke kamu. Yang mana aja, soal keluarga, soal pekerjaan, soal percintaan sini saya bagi-bagi. Siapa tau pikiran saya jadi lebih ringan, dan bisa membuat kamu belajar dari pengalaman hidup saya. Oh ya, nambahin sedikit. Gak ada seorangpun yang pengalaman hidupnya lebih banyak dari yang lain. Yang membuat beda hanyalah berapa banyak ilmu dan kebaikan yang bisa kita ambil dari pengalaman hidup kita masing-masing.

memberi makan keluarga

Siang ini panas. Banget. Tapi dalam hati saya senang, baguslah tidak hujan. Soalnya entah kenapa, tiap kali hujan, air bersih seperti langka di Ende. Para pelanggan ledeng -termasuk saya- cuma bisa mengelus dada karena kran mereka kering tak mengalir. Nah, berhubung beberapa hari kemarin hujan terus turun, alhasil ledeng kami sudah 3 hari tidak mengeluarkan air. Mudah-mudahan hujan betul-betul tidak turun hari ini, jadi ada mudah-mudahan air bisa kembali mengalir dari ledeng kami. Sekali lagi, ini masih mudah-mudahan.

Dalam hati saya memaki perusahaan air, gimana bisa gitu lho, tiap hujan kok air mati. Sistem pengalirannya kah yang jadi masalah? Atau air hujan membuat keruh penampungan? Atau hal lain? Air ini vital kan? Kenapa ngga bisa diurus yang bener gitu? Saya ini bayar rekening air ngga pernah telat, dan sekarang untuk (maaf) cebok saja susah. Boro-boro mandi. Ya saya sih ngaku kalau saya ini kadang malas mandi, jadi seharian ngga mandi mungkin sudah biasa. Tapi tiga hari ngga mandi kan kebangetan juga. Belum kalau diingat-ingat juga cucian yang numpuk, belum lagi susahnya kalau tiba-tiba kebelet, bisa tambah setres.

Tapi hidup memang harus disyukuri, bukan untuk diperhitungkan untung-ruginya kok. Saya harus bersyukur, masih bisa numpang mandi di kosan teman yang pakai jetpump, atau kalau ngga dapat yang gratis masih mampu lah beli air bersih galonan. Kemudahan-kemudahan yang saya miliki ini lah yang mungkin orang lain tidak punyai, dan karena itu saya harus bersyukur. Coba bayangkan saya tinggal di desa nelayan Blatat, contohnya (baca post sebelumnya :D) dimana untuk ambil air tawar harus berjalan dengan jerigen beratus meter ke sumur desa yang tidak selalu berair. Belum lagi dengan taraf hidup mereka, mungkin membeli sesuatu bukan pilihan mudah.

Itu baru soal air. Di siang yang panas ini, juga, saya diajarkan untuk bersyukur lebih banyak lagi.

2 orang mendatangi kubikel saya, seorang bendahara dan seorang staf sebuah SMP negri. Sekolah mereka baru saja terdaftar sebagai wajib pajak, untuk itu mereka datang berkonsultasi tentang kewajiban-kewajiban perpajakan, jadi saya menjelaskan garis besarnya : PPh itu begini, PPN itu begitu, secukupnya. Lalu, saatnya contoh teknis.

Bendahara : “pajak untuk guru honor berapa ya pak?”
Romeh : “hmm..tergantung honornya pak, diatas PTKP (penghasilan tidak kena pajak -pen) atau tidak. memang rata-rata honornya berapa pak?”
B : “ada yang mencapai 1 juta 50 ribu sih pak..”
R : “per bulan?”
B : “per tiga bulan, pak.”

“Eh?”

Saya kaget. Ini ngga terbayang sebelumnya. Pak bendahara menceritakan kenyataan lain, bahwa disekolahnya, yang berstatus PNS hanya dia dan kepala sekolah. Lah? Itu artinya semua tenaga pengajar di sekolah itu adalah honorer yang hanya mendapat gaji maksimal 350ribu per bulan?

Ilmu macam apa yang bisa didapat dari pengajar dengan gaji seperti itu? saya berpikir heran. Ini bukan menyangsikan niat tulus para guru honorer yang malang itu, tapi pastinya bukan perkara gampang untuk tetap bekerja baik dengan kondisi penuh tekanan seperti itu kan? Padahal untuk mengeluarkan 350 ribu, buat beberapa orang disana (di-sanaaa, jauh banget deh pokoknya) rasanya cuma seperti buang angin!

Kali ini saya mau-tidak mau harus mengutuk para pejabat penyusun anggaran negara. Mbok ya tolong tau prioritas dan sadar diri dikit, gitu, pak, bu? Ini bukan masalah jumlah dana anggaran yang kita punya, seperti saya bilang kepada seorang teman yang juga concern di sesi bbm tadi siang, tapi pembagian dan alokasi dana itulah yang seharusnya diutamakan. Mana pos pengeluaran yang lebih penting sehingga harus didahulukan, mana yang harus ditambah, mana yang bisa ditekan, mana yang bisa disimpan untuk dana antisipasi, dsb.

Saya yang bodoh ini membayangkan mengelola uang negara mirip seperti seorang ibu mengelola dana rumah tangga. Dihitung deh, berapa penghasilan keluarga. Lalu dihitung berapa yang harus dikeluarkan untuk biaya tetap : bayar listrik, belanja bulanan, bayar uang sekolah anak, dst. Sebagian disimpan buat tabungan dan dana cadangan, baru sisanya bisa digunakan buat nambah perabotan, beli mobil baru, atau investasi. Prioritas, kuncinya. Kalau memang belum mendesak untuk ganti mobil, ya jangan kepingin, bahkan lihat-lihat brosur dari dealer sebaiknya dihindari. Banyak keinginan itu wajar, namanya juga manusia, ngga akan pernah puas. Tapi tiap keinginan tidak harus terwujud sekarang kan?

Kalau memang penghasilan keluarga ternyata ngga cukup untuk membiayai semua pengeluaran keluarga, ya pinjam uang saja dari saudara atau tetangga, siapa tau dikasih kemudahan dalam pengembalian, bunga juga ringan. Atau pinjam dari bank, kalau tidak punya saudara. Gapapa kan, pinjam uang itu halal toh? Yang penting harus ingat, uang pinjaman harus dikembalikan. Bukan dipakai terus dilupa-lupain. Harus pintar-pintar deh, uang pinjaman itu diputar, dijadikan modal usaha kek atau diinvestasikan secara baik, supaya ngga malah nombok. Mau uangnya, uang sendiri, atau hasil ngutang, yang penting semua kebutuhan harus tercukupi. Paling ngga, semua orang di keluarga harus dapat makan, bukan bapaknya doang yang kenyang.

Saya mikir lagi, masa iya sih para penyusun anggaran negara ngga punya prioritas untuk tiap pengeluaran yang harus mereka bayar? Mereka kan orang-orang pintar semua itu, beda dengan saya yang udah ketauan begonya. Pastilah mereka punya prioritas untuk mendahulukan (atau menambah) besarnya suatu pos pengeluaran daripada yang lain berdasarkan kepentingan… eh iya, kepentingan rakyat mestinya. Mestinya lho, tapi ngga tau ding. Mungkin kepentingan-kepentingan tak kasat mata malah lebih penting, tak tahulah.

Saya ini pegawai pajak. Saya (kami, tepatnya) ditugaskan sesuai jabatan untuk menghimpun dana sebanyak-banyaknya dari masyarakat, sesuai aturan perundang-undangan. Saya pribadi sedih, saya paksa-paksa masyarakat supaya bayar pajak yang baik dan benar, tapi setelah mereka bayar, manfaat yang kembali kepada mereka masih jauh dari harapan. Bagaimana saya bisa tau? Lho, saya ini ya masyarakat juga, saya merasakan juga, dong.

Tapi mungkin, sebagai manusia kecil tak berdaya tak berkuasa, kita hanya bisa ikhlas, bersyukur, berupaya sebaik kita bisa dan jangan lupa berdoa supaya perubahan yang baik bisa terjadi. Perubahan yang baik dan cepat, mudah-mudahan, tapi seperti kata orang tua yang cepat itu belum tentu baik, ya terserahlah. Yang penting jadi lebih baik. Kita tahu kok, yang baik itu seperti apa. Itu naluriah.

Yang kita miliki adalah secukup-cukupnya pemberian Tuhan, mintalah, dan berusahalah untuk yang lebih. Kalau kata Tuhan cukupnya segini dulu, ya syukuri. Sesulit apapun keadaan kita, pasti ada manusia yang jauh lebih sulit. Jangan dibandingkan juga kemudahan-kemudahan yang kita punya, sekecil apapun itu, dengan kesulitan korban bencana alam di seantero negri ini yang harus mengungsi dari rumah mereka, meninggalkan harta benda. Tuhan, cukupkan cobaanMu, dan tabahkanlah hati mereka.

*eh air kran udah ngalir, terima kasih ya Tuhan!*